Bappeda:  Kemiskinan dan pengangguran jadi masalah utama di Kota Palu



Palu (ARSIP DUNIA) – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Palu Arfan mengatakan persoalan kemiskinan dan pengangguran masih menjadi masalah utama yang terus diupayakan dapat diselesaikan oleh Pemerintah Kota Palu.

Ia mengatakan, pascabencana gempa, tsunami dan likuefaksi tahun 2018 ditambah pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak orang di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) itu jatuh miskin dan kehilangan pekerjaan sehingga menganggur.

“Memang pertumbuhan ekonomi Kota Palu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), yang pada 2019 5,79 persen, pada tahun 2020 terkontraksi menjadi minus 4,54 persen, salah satu faktor utama yang menyebabkan kontraksi adalah pandemi COVID-19,” katanya, Kamis.

Berbagai masalah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Kota Palu terkontraksi itu yang diupayakan oleh Pemerintah Kota Palu dan stakeholder terkait untuk diatasi.

“Pada 2021 dicoba diupayakan oleh berbagai pihak agar didongkrak dengan cara melibatkan semua stakeholder untuk memperbaiki masalah pada 17 lapangan usaha yang menjadi indikator penilaian pertumbuhan ekonomi Kota Palu lewat berbagai regulasi yang dibuat,” ujarnya.

Sehingga kata Arfan, pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Kota Palu dapat kembali positif pada angka 5,97 persen. Meskipun angka tersebut terbilang masih rendah.

Selain itu ia menjelaskan masalah pengangguran Kota Palu tercermin dari tingkat pengangguran terbuka (TPT), yang pada tahun 2020 TPT Kota Palu mencapai 16.960 orang.

“Pada tahun 2021 TPT Kota Palu turun menjadi 15.302 orang atau berkurang 1.658 orang yang sudah mendapat pekerjaan,” tambahnya.

Penduduk miskin di Kota Palu pun demikian. Pada tahun 2020 jumlah penduduk miskin di Palu berjumlah 26.890 orang dan pada tahun 2021 naik menjadi 28.600 orang.

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.