Jakarta (ARSIP DUNIA) – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan produksi obat-obatan berbahan alam berpotensi besar untuk dikembangkan karena tingginya permintaan masyarakat, khususnya selama pandemi COVID-19.

“Penjualan jamu dan obat herbal nasional di Indonesia diperkirakan mencapai Rp23 triliun pada 2025. Potensi ini juga membuka peluang bagi jamu yang berorientasi ekspor agar bisa menjadi komoditi andalan di pasar global,” kata Penny dalam agenda Konvensi Nasional “Kemandirian Penyediaan Bahan Baku Obat Bahan Alam” yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Kamis.

Penny mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memprediksi permintaan tanaman obat mencapai nilai 5 triliun dolar AS pada tahun 2050.

“Selama masa pandemi COVID-19, kebutuhan jamu melonjak seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya meningkatkan imunitas tubuh,” katanya.

Baca juga: Wamenkes dorong industri farmasi kembangkan fitofarmaka

Penny mengatakan obat bahan alam asli Indonesia perlu dilestarikan melalui ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka.

Hingga Juli 2022, kata dia, terdapat 1.161 sarana obat bahan alam yang telah memproduksi lebih dari 14.000 item produk obat bahan alam dalam bentuk jamu, obat herbal terstandar, maupun fitofarmaka.

“Saat ini industri obat bahan alam masih menghadapi tantangan. Ketersediaan bahan baku obat bahan alam sebesar 25 persen dari total kebutuhan masih diperoleh melalui impor,” katanya.

Demikian juga pelaku usaha obat tradisional masih menghadapi keterbatasan sumber pengadaan bahan baku obat bahan alam dalam negeri.

Baca juga: Indonesia kembangkan herbal kurangi obat impor

“Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan menjaga stabilitas ketersediaan bahan baku obat bahan alam, baik dari sisi jumlah, keberlanjutan, mutu, maupun harganya melalui berbagai upaya intervensi dari hulu ke hilir,” katanya.

Pada 12 Juli 2022, BPOM telah mengadakan pelatihan kepada para pemasok bahan baku obat bahan alam di Sukoharjo yang diikuti oleh 46 peserta dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pelatihan itu bertujuan meningkatkan pemahaman pengusaha terhadap persyaratan bahan baku obat berbahan alam yang harus dipenuhi agar dapat menyediakan bahan baku bermutu bagi UMKM secara konsisten.

BPOM telah menggandeng 17 Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) untuk mendukung industri obat bahan alam.

Baca juga: BPOM: Optimalkan penemuan dan pengembangan obat bahan alam Indonesia

Penny berharap seluruh kebijakan itu bisa mewujudkan kemandirian bahan baku obat nasional yang bisa melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor.

“BPOM berkomitmen terus mengawal tindak lanjut kegiatan ini, sehingga kita dapat menyelesaikan permasalahan pasokan dan kualitas bahan baku obat bahan alam di dalam negeri,” katanya.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ARSIP DUNIA 2022

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.