Kita patut berbangga sebagai Muslim Indonesia karena selama ini dianggap sebagai wajah dari Islam yang ramah

Jakarta (ARSIP DUNIA) – Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Rosan Perkasa Roeslani mengatakan keberadaan diaspora Indonesia, termasuk diaspora Muslim, di AS menjadi sarana dan aset penting membangun negara Indonesia dan mencetak generasi unggul di masa depan.

Pernyataan itu dia sampaikan ketika membuka Muktamar Indonesian Muslim Society in America (IMSA)-Malaysian Islamic Student Group (MISG) di Los Angeles, AS, .pada Minggu (26/12)

“Kita patut berbangga sebagai Muslim Indonesia karena selama ini dianggap sebagai wajah dari Islam yang ramah, berjalan beriringan dengan modernitas, demokrasi dan menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Oleh karenanya, kita harus terus meningkatkan upaya-upaya untuk menunjukkan hal tersebut,” kata Rosan dalam keterangan tertulis KBRI Washington DC, Selasa.

Ia berharap kegiatan muktamar tersebut dapat menghasilkan upaya-upaya konkret dan kontributif dalam menyuarakan pesan-pesan Islam yang rahmatan lil-aalamin di AS.

Baca juga: Cerita Diaspora Indonesia manfaatkan peluang bisnis produk UKM di Amerika

Sementara itu, dalam sambutannya, Presiden IMSA Aria Novianto menyampaikan apresiasi atas dukungan konsisten perwakilan RI di AS.

Alhamdulillah, seperti biasa, dukungan tersebut sangat berperan besar dalam kegiatan ini. Saya berharap Muktamar yang bertema ‘Unity Through Community: Stronger Together’ ini dapat mendatangkan banyak manfaat nyata dan semakin memperkuat tali persaudaraan kita semua,” ujar diaspora Indonesia asal Demak, yang sudah bermukim selama puluhan tahun di AS.

Sependapat dengan Dubes RI, Konsul Jenderal RI di LA Saud Putranto Krisnawan menegaskan peran penting para peserta muktamar.

“Saya harap melalui peran aktif peserta dalam muktamar ini, kita semua dapat lebih memahami makna dan meningkatkan persatuan, tidak hanya di antara sesama Muslim Indonesia dan Malaysia, tetapi juga dengan komunitas-komunitas antaragama di AS,” kata Saud.

Setelah sesi pembukaan, Dubes Rosan berkesempatan berkeliling arena muktamar, menyapa sesi kegiatan peserta muktamar pemuda dan berdiskusi dengan Board of Trustee IMSA.

Turut hadir dalam acara pembukaan Muktamar IMSA-MISG tersebut antara lain Wakil Duta Besar RI untuk AS Iwan Freddy Hari Susanto, Presiden MISG Zabidi Yusoff, dan Presiden Indonesia Muslim Foundation (IMFO) LA Dwirana Satyavat, serta para imam dan perwakilan masjid-masjid maupun komunitas Islam Indonesia di AS.

Baca juga: Diaspora Indonesia akan dirikan pabrik tempe di Amerika Serikat

Hadir pula Konsul Jenderal Malaysia di LA Anil Fahriza Adenan.

Muktamar IMSA-MISG tahun ini dihadiri sekitar 1.300 diaspora Muslim Indonesia dan Malaysia, yang 700 orang di antaranya kategori pemuda, yang tidak hanya berasal dari AS, tetapi juga Kanada.

Muktamar tahun ini, selain berisi berbagai diskusi untuk meningkatkan peran dan kualitas diaspora Muslim Indonesia di AS, juga mengangkat agenda pemberdayaan generasi muda dan perempuan, seperti kewirausahaan.

Selama berlangsungnya muktamar, Panitia menerapkan protokol kesehatan COVID-19 yang sangat ketat.

Kegiatan Muktamar IMSA ini disambut antusiasme yang tinggi dari para peserta. Beberapa di antara mereka bahkan datang dari berbagai penjuru di AS.

“Kegiatan ini memang selalu ditunggu. Selain ajang silaturahmi, banyak ide baru untuk memperkaya kualitas diri dan memperkuat persatuan masyarakat Muslim di AS,” ujar Syafrin Murdas, mantan Presiden IMSA yang berdomisili di negara bagian Virginia.

Peserta lain, yakni Irwan Tantru dan istrinya, Baiq Herawati, yang juga berasal dari Virginia, bahkan rela naik mobil selama enam hari menjelajahi ribuan kilometer dan melewati berbagai negara bagian di AS untuk sampai ke Los Angeles.

Sejak terbentuk pada 1998, IMSA telah menjadi organisasi yang awalnya terdiri dari para pelajar dan mahasiswa Indonesia menjadi sebuah organisasi masyarakat keagamaan, amal, ilmiah, sastra, pendidikan, dan nirlaba. Kegiatan Muktamar IMSA-MISG 2021 merupakan kegiatan tahunan ke-23 sejak pertama kali dilaksanakan pada 1998.

Baca juga: Diaspora Indonesia akan dirikan pabrik tempe di Amerika Serikat

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ARSIP DUNIA 2021

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.