Haedar: Isra Miraj momentum memperbaiki relasi kemanusiaan dan ketuhanan



Yogyakarta (ARSIP DUNIA) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak masyarakat memaknai peringatan Isra Miraj 1433 Hijriah sebagai momentum untuk memperbaiki relasi kemanusiaan dan ketuhanan.

“Jadikan Isra Miraj dengan buah dari shalat untuk membangun relasi kemanusiaan yang semakin baik tapi juga relasi ketuhanan yang semakin dekat. Sehingga manusia semakin damai dengan langit, tapi juga semakin damai dengan bumi,” kata Haedar melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Senin.

Dengan memperbaiki relasi keduanya, ia meyakini kehidupan dapat dibangun secara lebih baik, adil, damai, tenteram, aman, makmur serta maju bersama sehingga kehidupan menjadi penuh makna.

Haedar Nashir menyebut Isra Miraj memiliki nilai inklusif bagi kehidupan kemanusiaan dan semesta yang terjabarkan dalam tiga makna.

Makna pertama, kata dia, adalah makna kekuasaan.

Isra Miraj Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha, menurut Haedar, mengandung pesan bahwa di atas pencapaian ketinggian ilmu manusia, masih ada kekuatan ilahiyah yang tidak selalu bisa dirasionalisasi oleh pencerapan dan ilmu pengetahuan manusia.

“Isra Miraj menunjukkan bahwa di balik kekuasaan manusia yang bersifat profan atau duniawi itu ada kekuasaan Allah, kekuasaan Tuhan yang bersifat ‘ruhaniyah-ilahiyah’ atau ‘divine power’ atau kekuasaan yang sakral,” tuturnya.

Ia mengatakan di atas langit masih ada langit maka manusia seyogianya dengan kekuatan yang dimilikinya tetap rendah hati, serta tidak menyalahgunakan kekuasaan.

“Perang, penistaan, kezaliman dan segala bentuk kesewenang-wenangan itu terjadi karena kekuasaan manusia lepas dari kekuasaan ketuhanan,” ujar dia.

Makna kedua adalah makna diwajibkannya ibadah shalat bagi umat muslim dalam peristiwa Isra Miraj. Menurut Haedar, ibadah salat memiliki dua dimensi pesan yakni hubungan manusia dengan Tuhan (habluminallah) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (habluminannas).

Makna ketiga, menurut Haedar adalah dijalankannya dua risalah Nabi setelah Isra Miraj.

Dua risalah itu adalah risalah menyempurnakan akhlak beserta risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam sehingga mengandung makna bahwa Islam membangun peradaban sekaligus membangun keadaban.

Karena itu, ia berpesan agar umat Muslim, tokoh agama, tokoh organisasi Islam senantiasa mencontoh akhlak mulia nabi dengan tutur-tindakan yang berkeadaban di dunia nyata ataupun di media sosial sembari menebar rahmat bagi lingkungan di mana dia berada.

“Jangan melakukan kebijakan yang membawa madarat, lebih-lebih atas nama agama. Agama harus difungsikan sebagai pencipta kebaikan dalam kehidupan,” ujar Haedar.

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.