Luhut persiapkan RS Sanglah jadi



Denpasar (ARSIP DUNIA) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang juga Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengaku sedang mempersiapkan RSUP Sanglah untuk zero quarantine guna menunjang wisatawan di Bali.

 

“Kami mau laporkan hasil keputusan tadi apakah mau buka nol karantina (di Bali). Tadi kami sudah lihat, kalau nanti zero quarantine, rumah sakit harus siap, dan tadi kami lihat rumah sakit Sanglah sudah jauh lebih siap,” kata Luhut saat ditemui di Desa Padangsambian Kaja, Kota Denpasar, Bali, Jumat.

Saat kunjungannya di RSUP Sanglah, Luhut mengatakan akan memastikan seluruh fasilitas siap untuk dioperasikan. Fasilitas tersebut berupa intensive care unit (ICU), penyakit dalam dan jantung yang dalam kondisi bagus.

 

“Nah kalau ini betul-betul sudah siap, mungkin akan mempercepat prosesnya. Tadi dengan Pak Gubernur sudah diskusi, dan semua kerja terintegrasi, nanti baru kata akhir dari Presiden, nanti kami laporkan Senin, kapan mau buka Bali ini tanpa karantina,” ucapnya.

 

Selain mempercepat proses peningkatan fasilitas rumah sakit, kata Luhut, bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang ke Bali tidak diperbolehkan menggunakan visa sponsor atau yang berasal dari pihak ketiga.

 

Sementara itu, ke depannya penerapan visa on arrival (VoA) akan diaktifkan kembali. “Selain mempersiapkan Bali tanpa karantina, orang (wisatawan) datang ke sini (Bali), visanya tidak boleh pakai sponsor-sponsor, pakai VoA,” ucapnya.

Baca juga: Bali dan strategi hadapi gempuran Omicron

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia telah siap menunjang perhelatan Presidensi G20 di Bali.

“Secara nasional ketersediaan tempat tidur perawatan di rumah sakit sebanyak 400 ribu, 30 persen di antaranya dialokasikan untuk perawatan pasien COVID-19,” katanya saat

melaporkan fasilitas kesehatan di Bali, terutama rumah sakit beserta tenaga medis, sudah siap untuk menunjang perjalanan G20.

“Sebanyak 120 ribu (tempat tidur) itu, 30 persen dari 400 ribu. Kenapa 30 persen, karena masih ada orang yang juga sakit jantung, sakit kanker, sakit ginjal, dan lain-lain yang harus juga dirawat,” katanya di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

Dari 120 ribu tempat tidur yang didedikasikan untuk COVID-19, sebanyak 38 ribu kamar di antaranya terisi oleh pasien. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dari keterisian rumah sakit saat gelombang Delta kurun Juli-Agustus 2021 mencapai 100 ribu lebih pasien.

“Kebutuhan kamar perawatan di rumah sakit jauh lebih rendah dibandingkan zamannya Delta, sehingga saya tidak terlalu khawatir dari kebutuhan rumah sakit untuk pelaksanaan pertemuan G20,” katanya.

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.