TPID Sumbar lakukan pengendalian jaga inflasi tetap terkendali



Padang (ARSIP DUNIA) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) secara aktif terus melakukan sejumlah langkah pengendalian di provinsi itu dalam rangka menjaga inflasi yang rendah dan terkendali.

“Pada awal 2022 tercatat terjadi kenaikan harga komoditas minyak goreng akibat adanya keterbatasan pasokan dan dampak kenaikan harga CPO global, TPID Sumbar telah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait mengatasi hal itu,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumbar, Wahyu Purnama di Padang, Rabu.

Menurut dia untuk menjaga keterjangkauan harga dan kecukupan pasokan minyak goreng di Sumatera Barat, TPID Sumbar melakukan koordinasi dengan PT Incasi Raya dan PT Padang Raya Cakrawala (Apical Group) sebagai produsen penyedia minyak goreng untuk menyediakan minyak goreng kemasan dengan harga terjangkau.

Selain itu TPID Sumbar juga berkoordinasi dengan PT Musim Mas dan PT Smart sebagai pemasok minyak goreng ke Sumbar untuk menjaga kecukupan pasokan.

Tidak hanya itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumbar juga telah berkoordinasi dengan Kemendag membantu pemantauan terhadap penerapan Harga Eceran Tertinggi minyak goreng di Sumatera Barat.

TPID juga menyelenggarakan operasi pasar minyak goreng di kabupaten kota bekerja sama dengan PT Padang Raya Cakrawala (Apical Group) di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Solok, Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya dan Kota Bukittinggi dengan total kuota sebanyak 10.000 liter.

Pada sisi lain Wahyu menyampaikan secara tahunan, inflasi Februari 2022 di Sumbar mencapai 2,77 persen atau meningkat dibandingkan realisasi Januari 2022 yang sebesar 2,30 persen.

Inflasi Sumatera Barat pada Februari 2022 terutama didorong oleh kenaikan tarif air minum PAM dan disebabkan oleh penyesuaian tarif dasar penggunaan air minum yang tercatat belum pernah mengalami kenaikan sejak beberapa tahun terakhir.

Pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi didorong kenaikan harga nasi dengan lauk didorong oleh peningkatan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan pangan seperti cabai merah, serta sebagai akibat adanya kenaikan bahan bakar rumah tangga.

Selain itu komoditas cabai merah tercatat mengalami kenaikan terutama pada jenis cabai merah yang dipasok dari Pulau Jawa.

“Keterbatasan pasokan yang terjadi pada varian cabai merah Jawa disebabkan oleh telah berakhirnya masa panen di wilayah asal pasokan. Curah hujan yang cukup tinggi juga menyebabkan kendala pada produktivitas cabai merah,” kata dia.

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.