Ini menarik dan bagus karena dilakukan secara mandiri oleh kelompok yang mengelola wisata

Wamena (ARSIP DUNIA) – Wakil Bupati Jayawijaya, Provinsi Papua Marthin Yogobi membuka pertandingan voli etnik Baliem (sebutan adat untuk Jayawijaya) yang berlangsung 3 Hingga 5 Desember di Objek Wisata Pasir Putih di Distrik Pisugi.

Marthin Yogobi di Pisugi, Jumat, mengapresiasi pengelola 10 objek wisata yang mempromosikan objek wisata budaya dan alam tersebut.

“Ini menarik dan bagus karena dilakukan secara mandiri oleh kelompok yang mengelola wisata. Mereka ini ada 10 kelompok objek wisata,” katanya.

Baca juga: Ajang bola voli etnik disiapkan digelar di Lembah Baliem-Papua

Pertandingan yang pesertanya menggunakan pakaian tradisional Baliem seperti laki-laki memakai koteka dan perempuan memakai sali dan noken itu juga dalam rangka memperingati HUT Jayawijaya yang diperingati 10 Desember.

“Kegiatan yang dilaksanakan anak-anak muda ini tujuannya juga adalah untuk promosi lokasi dan pariwisata yang ada di Jayawijaya,” katanya.

Marthin mengatakan inovasi pengelola objek wisata itu mendorong pemerintah memikirkan kegiatan lain untuk nantinya diselanggarakan lagi yaitu lari lintas alam dengan pakaian tradisional.

“Artinya dengan pakaian etnik yang ada di Lembah Baliem ini. Itu memang sempat terlintas, nanti kita akan lihat perkembanganya, kesiapan dari pemuda yang ada di sini. Pemerintah akan mendukung bagian yang bisa kita dukung,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jayawijaya Engelbert Sorabut mengharapkan peserta dari etnis lain bisa terlibat voli etnik tersebut.

Baca juga: Ketum KONI harapkan PON pacu pengembangan sport tourism di Papua

Kami harap peserta dari umum dan itu sesuai budaya masing-masing, misalnya dari Jawa, itu bebas bagi mereka dan mereka harus menggunakan pakaian adat mereka,” katanya.

Ketua Panitia voli etnik Stefanus Marian mengatakan tujuan pengelola obyek wisata melakukan kegiatan tersebut untuk menghidupkan objek wisata yang hampir sepi pengunjung pasca COVID-19.

“Memang ada yang bilang ini pelecehan, tetapi tujuan kami adalah melestarikan dan meningkatkan nilai budaya kami,” katanya.

Kegiatan ini diikut peserta laki-laki dan perempuan. Pengunjung yang masuk ke lokasi dikenakan tarif Rp500 per orang dan untuk kendaraan motor Rp20 ribu. Di sana pengunjung bisa menikmati pemandangan alam serta objek wisata budaya dan berbelanja pernak-pernik budaya seperti noken, sali, gelang, kare-kare dan koteka.

Baca juga: KONI Pusat dan TWC jalin kerja sama kembangkan potensi “sport tourism”

Pewarta: Marius Frisson Yewun
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ARSIP DUNIA 2021

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *