Warga pengungsi bencana di Kabupaten Lebak mulai terserang penyakit



Lebak (ARSIP DUNIA) –

Masyarakat yang tinggal di pengungsian bencana tanah bergerak di Desa Cihuni Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak, Provinsi Banten mulai terserang penyakit.

 

 

Untuk masyarakat yang terserang penyakit itu sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan juga pengobatan oleh tenaga medis puskesmas setempat.

 

Namun, hingga saat ini para pengungsi yang sakit itu belum kembali sehat.

 

Petugas medis juga membuka tenda posko, namun tidak melayani selama 24 jam.

 

“Kami dan anak yang berusia balita masih pilek, batuk dan demam, ” kata Ipah.

 

Begitu juga Murti (60) warga korban bencana tanah bergerak mengaku dirinya kini mengalami penyakit rematik dan sulit untuk berjalan, sebab tinggal di pengungsian kurang nyaman dan kedinginan.

 

Masyarakat yang tinggal di tenda pengungsian korban bencana tanah bergerak itu sudah satu sepekan terakhir.

 

Kemungkinan keberadaan mereka di tenda pengungsian berlangsung lama, karena permukiman warga dikosongkan setelah kondisi rumah mengalami retak-retak.

 

“Kami sendiri tidak berani menghuni rumah milik, karena rusak parah dan khawatir roboh akibat bergerak tanah, ” katanya menjelaskan.

 

Dirinya bersama warga yang tinggal di tenda pengungsian ingin agar secepatnya direlokasi ke tempat yang lebih aman, nyaman dan sehat.

 

Apabila terlalu lama tinggal di tenda pengungsian tentu mudah terserang penyakit juga hidup tidak nyaman.

 

Karena itu, dirinya setuju dilakukan relokasi ke tempat yang bebas dari ancaman bencana alam.

 

“Kami kini tinggal di pengungsian sering sakit- sakitan, ” katanya.

 

Onih (60) warga yang tinggal di pengungsian mengaku dirinya kini setiap hari tidur terus , karena kondisi badan sakit demam dan batuk.

 

“Kami sejak sepekan tinggal di pengungsian ini terserang penyakit, ” kata Onih.

 

Sementara itu, Kepala Desa Curugpanjang Kabupaten Lebak Yadi mengatakan saat ini warganya yang terdampak bencana tanah bergerak di Kampung Cihuni tercatat 37 rumah, 48 kepala keluarga ( KK) dan 173 jiwa.

 

Masyarakat setempat kini sudah mengosongkan rumah mereka karena kondisinya rusak berat akibat tanah bergerak.

 

Dengan demikian, mereka kini tinggal di tenda pengungsian, atau jdi rumah orang tua maupun kerabat dan juga ada yang mengontrak rumah.

 

Pemerintahan desa berjanji akan merelokasi ke tempat yang lebih aman.

 

Pembangunan relokasi ke tempat yang lebih aman melibatkan pemerintah daerah melalui BPBD kabupaten.

 

“Kami sudah menyiapkan lahan seluas 2,5 hektare untuk relokasi itu, ” katanya menjelaskan.

 

 

 

By pass

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.